Selasa, 29 September 2015

Corat Coret Gunung Karang..


Selimut Kabut Gunung Karang
Salam Corat Coret.. !!!
Setelah hampir setahun (bahkan lebih) nih blog jarang update, tetiba kepikiran buat nulis lagi. :)) Kali ini lagi pengen buat catatan tentang perjalanan saya dkk waktu ke Gunung Karang belum lama ini.
Kerinduan akan suatu perjalanan mendaki gunung yang benar-benar menikmati arti suatu pendakian.. (apa sih???) Maksudnya gini, kita kan kalo naek gunung itu kan pengennya nyaman, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Iya gak??
Lah sekarang.. Gunung2 udah rame, pagi siang sore malam pasti rame. Yang tadinya mau menikmati keheningan, suasana yang saya tulis diatas tadi jadi gak bisa.. Sedih deh eike huhhh ;(
Singkat cerita, pilihan jatuh ke Gunung tertinggi di wilayah Provinsi Banten.
Gunung Karang Berdiri tegak di wilayah kabupaten Pandeglang Mempunyai ketinggian sekitar 1.778 MDPL. Pada saat ini telah menarik perhatian oleh banyak orang untuk melakukan kegiatan pendakian umum maupun untuk pendakian wisata ziarah karena memiliki tempat keramat dan sumur 7 di puncaknya, walau gunung ini terbilang tidak terlalu tinggi namun memiliki tantangan dan tingkat kesulitan yang lumayan berat membuat keringat mengucur deras dengan nafas senen-kemis, dalam menyusuri jalan menuju puncak menjadi tantangan dan cerita tersendiri yang tak dapat dilupakan.
Stasiun Rangkas Bitung
Perjalanan saya dan rombongan dimulai dari St.Tanah Abang, Sabtu pagi 5 September 2015. Dengan menaiki Kereta Ekonomi AC Rangkas Jaya seharga 15rb, yang berangkat sekitar pukul 8 pagi. Kami pun meluncur menuju St.Rangkas Bitung di Kab.Lebak Banten. Dan tepat pukul 10 pagi kami pun sampai..
Di Stasiun Rangkas Bitung kami dijemput oleh teman2 dari Milanisti Krakatau Serang (Yudi) dan Milanisti Lebak (Dede vian & Desi). Setelah bongkar muat perabotan lenong ke mobil penjemput, kami pun makan siang dan membeli perbekalan lagi yang sekiranya kurang. Pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan menuju salahsatu jalur Pendakian di Desa Kaduengang.
Di ketahui ada dua jalur pendakian menuju puncak Gn Karang yaitu jalur Desa Kaduengang yang sering dipakai oleh para peziarah dengan waktu tempuh kurang lebih 4-5 jam. Dan jalur Desa Pager Watu / Ciekek dengan jarak tempuhyang lebih lama sekitar 7 jam, namun jalur ini jarang dilalui.
Setelah hampir 3 jam perjalanan, kami pun sampai di Desa Kaduengang. Dari Desa ini juga para pendaki dapat melihat indahnya gemerlap kota Serang dan Pelabuhan Merak. Pendakian dimulai dengan jalan desa yang menanjak, pos 1 ditandai dengan adanya menara tower milik TNI dekat rumah salah satu sesepuh yang dapat pendaki minta untuk memimpin berziarah, karena sebelum melanjutkan pendakian disarankan agar berziarah terlebih dahulu ke makam Pangeran TB. Jaya Raksa, makam tersebut berada tepat di sebelah kanan jalur pendakian.
Track batuan Hutan 1 / Kebun cengkeh
Tepat pukul 13.30 Saya dan rombongan (w/ Rudi, Iwel, Agung, Ucup, Nafi, Dijah, Abel, Farel, Yudi dan Adit) memulai pendakian dengan rencana nge-camp di Puncak Sumur Tujuh. Awal-awal perjalanan track jalur batu yang disusun dan track tanah dengan kanan-kirinya merupakan kebun cengkeh dan buah-buahan masih menjadi kawan setia hingga 1 jam perjalanan. Setelah itu track berubah menjadi sedikit berpasir dan batu-batuan dengan perkebunan sayur milik warga disebelahnya. di jalur kebun sayur ini terdapat 3 warung yang bisa dijadikan tempat istirahat sambil jajan jajan pastinya. Tapi pas saya kesana cuma 1 warung aja yang buka, yaitu warung ke 2. Jadilah saya dan rombongan beristirahat disana sebelum melanjutkan perjalanan.
Track Kebun sayur
Gunung Karang memiliki hutan hujan tropis, di Jalur Kaduengang ini kawasan hutan terbagi menjadi 2, Hutan 1 dan Hutan 2. Hutan 1 merupakan hutan yang tidak terlalu lebat, letaknya masih disekitar ladang penduduk (Kebun Cengkeh). Sedangkan Hutan 2, merupakan kawasan hutan lindung, dalam hutan ini banyak ditemui tumbuhan anggrek hampir sepanjang jalan, dan juga di hutan ini sering tertutup kabut tebal yang menimbulkan kesan mistis buat saya, keadaan yang lembab dan dipenuhi akar-akar pohon besar menghiasi perjalanan ketika memasuki hutan 2 ini.
Perjalanan pun dilanjutkan kembali Pukul 16.45, setelah 15 menit mendaki dari warung ke 2, jalur pendakian kembali memasuki hutan (Hutan ke 2) dengan track tanah. Memasuki hutan tiba-tiba hujan gerimis selama 30 menit, padahal cuaca sebelumnya cukup panas.. Pukul 18.00 kami sampai di puncak bayangan, dan ternyata rombongan kami tidak sendiri. Ada 1 tenda di puncak bayangan dan sepertinya penghuninya tersebut sedang lelah sangat, karena ketika kami beristirahat sebentar disana dan bercanda ria mereka tidak respon sama sekali.. Akhirnya kami kembali berjalan dengan sedikit bonus track menurun setelah puncak bayangan. Tepat pukul 18.30 seluruh rombongan akhirnya sampai di Puncak Sumur Tujuh, disambut Musholla kecil dan Makam membuat suasana puncak yang gelap menjadi agak-agak gimana gitu.
Tenda pun kami dirikan disebelah situs sumur tujuh yang dipagar, air sumur tujuh bisa digunakan untuk masak & minum tapi waktu kemaren saya disana sumur sedang kering karena musim kemarau, setelah mendirikan tenda, aktivitas dilanjutkan dengan makan malam bersama dan bercanda ria kembali sebagai pengobat lelah serta pengusir suasana mistis malam itu.
Karena lelah, saya ijin lebih dulu istirahat ke teman-teman yang sedang bercanda ria.. ZZzzz..ZZzzz..
Minggu pagi 6 September Pukul 05.00 kami sudah terbangun oleh jejak-jejak sepatu pendaki lain yang baru sampai di Puncak. Niat mereka mungkin untuk menikmati sunrise, tapi apa daya kabut melulu...
Sarapan Pagi
Sarapan lanjut packing sambil berpoto-poto ria adalah kegiatan minggu pagi pembunuh kekecewaan akan sunrise yang tak didapat pagi itu. Tidak lupa untuk opsih sampah disekitaran Puncak dan pukul 09.00 kami memutuskan untuk turun dari Puncak Gn.Karang. Dan sampai di Desa Kaduengang tepat pukul 12.00 dilanjutkan menuju Stasiun Rangkas Bitung dan kembali ke Jakarta.
ffiiiuuuhhhh.. Sekian dan terima kasih buat semuanya..
Makam di Puncak
Musholla di Puncak








Senin, 03 Maret 2014

TEKNIK MEMBACA PETA TOPOGRAFI

TEKNIK MEMBACA PETA TOPOGRAFI (Lanjutan navrat)

Dalam kenyataannya di lapangan resectian dan intersection sangatlah sulit digunakan, karena keadaan alam itu sendiri, seperti hutan yang lebat dan rapat, kabut, tertutup oleh lembah, dll. Oleh karena iitu setelah kita mengetahui dan mempelajari mulai dari peta (peta topografi) sampai orientasi medan, maka pembahasan terakhir adalah teknik membaca peta topografi di lapangan.

Teknik membaca peta topografi di lapangan ini sangatlah penting untuk mengetahui dan dimengerti oleh seorang pecinta alam, khususnya pendaki gunung. Cara yang paling baik untuk mempelajarinya adalah langsung di lapangan dan dari pengalaman.

Untuk yang baru pertama mengenal Navigasi Darat, khususnya mengenai peta topografi, maka tahapan-tahapan pekerjaan di lapangan sebagai berikut :


1. Titik Awal Perjalanan

Titik awal ini yang pertama diketahui dan harus diketahui!! Bila tidak dapat resection, sebaliknya tahu nama tempat tersebut. Misalnya Desa (Pasir rengit), nama sungai (cigamea), dll. Kemudian pindahkan plot/titik tersebut pada peta topografi.


2. Tanda Medan

Perhatikan tanda medan. Jadikan tanda medan sebagai pedoman arah perjalanan, misalnya puncak gunung, sungai di sebelah kiri atau di kanan, tebing, penggunungan, dan tanda medan lainnya.

3. Arah Kompas

Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan anda. Apakah sesuai dengan arah gunung, punggungan, sungai, atau tanda medan lainnya yang anda tuju.


4. Tafsir Jarak

Hitung atau tafsir jarak yang kita jalani dengan menafsirkan berapa jauh tiap bagian perjalanan kita.

Caranya:

a. Dengan melihat ke belakang dan memperkirakan jarak berhenti

b. Dapat juga dengan menghitung langkah


5. Orientasi Medan dan Resection

Lakukan teknik orientasi medan dan resection seserius mungkin, setiap kali ada kesempatan dan keadaan medan memungkinkan, lalu plot dan pindahkan pada peta topografi. Titik ini merupakan titik kontrol perjalanan kita.


6. Perubahan Kondisi Medan

Selama berjalan, waspadalah terhadap perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan kita. Misalnya pindah punggungan, punggungan curam menjadi landai., sungai dari sebelah kiri ke sebelah kanan kita, punggungan tipis, dll. Jadi selama kita berjalan konsentrasi kita selalu penuh terhadap perubahan-perubahan medan.

Demikian yang dapat saya share tentang teknik membaca peta topografi. Salam..

Sabtu, 16 November 2013

LEGENDA LEMBUSWANA di KUTAI KARTANEGARA

Belum lama ini pada tanggal 9-10 nov.13, saya mengikuti sebuah kegiatan Gathering di Kaltim. Tepatnya di 2 Kota yaitu di Samarinda dan Tenggarong, Kukar. Ketika Saya berada di Tenggarong di depan Museum Mulawarman ada sebuah patung yang menarik menurut saya, karena bentuk dan warnanya yang emas berkilau. Namanya Patung Lembuswana
Depan Museum
Patung Lembuswana tersebut merupakan karya seniman Burma pada pertengahan abad ke-19, tetapi baru menghias pelataran kedaton Kutai Kartanegara sejak awal abad ke-20.
Patung Lembuswana
Patung tersebut cukup erat kaitannya dengan mitologi setempat. Terutama dengan masyarakat Kutai Kartanegara. Patung satwa berbadan kuda yang berisisik dan bertaji. Taringnya yang menghunus ganas yang mengapit belalai itu. Lembuswana, sang penguasa Sungai Mahakam yang bersemayam di palung sungai tersebut. 
Leluhur mayarakat Kutai memercayai bahwa Sang Lembuswana merupakan tunggangan Mulawarman, yang bertakhta sebagai Raja Kutai (Kerajaan Hindu tertua di Indonesia) sekitar 1.500 tahun silam. Dan juga Kemunculannya tersebut kerap dihubungkan dengan kisah lahirnya Putri Karang Melenu yang muncul bersama satwa mitologi itu dari dasar Sungai Mahakam. Kelak sang putri menikah dengan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti. Dari sang putri itu dilahirkan penerus dinasti raja-raja Kutai Kartanegara. Lembuswana telah meretas masa dari zaman kerajaan Hindu tertua (Kutai Lama) sampai kesultanan Kutai Kartanegara dengan segala filosofinya.


Patung Lembuswana
Depan Museum Mulawarman

Sabtu, 16 Februari 2013

Persiapan (pribadi) Bagi Seorang Petualang

Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan antara lain :

1. Sifat mental.
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti kata sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

2. Pengetahuan dan keterampilan

Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.

3. Kondisi fisik yang memadai

Mendaki gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi fisik yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus selalu berlatih.

4. Etika

Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga harus menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung yang selama ini kita lakukan.

Senin, 28 Februari 2011

Membelok ke Gunung Kelimutu

Angin barat yang mengakibatkan cuaca buruk dan gelombang besar itulah yang akhirnya mengurungkan niat saya dan imron (iim) untuk menyebrang ke Pulau Wailago. Iya memang, pada hari itu, minggu 27 februari 2011 kami berencana ke sana. Tapi akhirnya rencana kami belokan menuju Taman Nasional Gunung Kelimutu.

Sore itu, kami berangkat menuju Gn.Kelimutu menggunakan travel dari maumere. Dengan harga tiket tidak normal sebesar 100rb Rupiah (normal 70rb). Sepanjang perjalanan yg “membosankan” selama 3 jam, kami hanya di suguhkan pemandangan remang malam diantara tebing, hutan dan sederhananya lampu penerangan jalan. Dan akhirnya kami pun sampai di Desa Moni, Desa yang terletak di kaki Gn.Kelimutu. Secara administratif, Gunung Kelimutu ini terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT. Tetapi karena letaknya yang berada di Jalan lintas Flores inilah yang membuat Desa Moni terkenal dan dijadikan gerbang masuk ke Taman Nasional Gunung Kelimutu, dimana banyak terdapat tempat penginapan atau hotel bahkan home stay dengan harga yang bervariatif. Karena ketika kami tiba sudah jam 9 malam, kami mencari penginapan untuk beristirahat semalam sebelum paginya melakukan ”Summit Attack” untuk mengejar sunrise.

Janji tinggal janji walaupun alarm sudah terpasang, apa daya kami pun kesiangan..hehhehe. Dan niat untuk menyaksikan sunrise pun pupus sudah. Dengan menyewa motor pada pemilik hotel, kami pun berangkat dengan semangat penuh di dada menuju Puncak (i’m coming..!!). 30 menit berlalu kami pun sampai pintu gerbang Taman Nasional Gunung Kelimutu. Setelah membayar retribusi, perjalanan kami lanjutkan menuju terminal (tempat parkir) selama 10 menit. Kami pun sampai di terminal, lalu perjalanan pun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama satu jam menuju puncak,pffiuhh.. tetapi dengan jalur trekking yg cukup jelas dan sedikit menanjak, tak membuat kami kesulitan mencapai puncak Gn.Kelimutu.

Ketika berada di puncak dengan ketinggian 1.639 Mdpl ini, saya terpesona oleh keindahan tiga danau yang memiliki nama, arti dan historis berbeda. Penduduk lokal khusus nya suku lio menyebutnya dengan nama danau Tiwu Ata polo (danau arwah para orang tua) dan danau Tiwu Nu’u Mari Koo Fai (danau arwah muda-mudi) letaknya saling berdekatan serta danau Tiwu Ata mbupu (danau arwah orang jahat) yang letaknya agak berjauhan dengan kedua danau sebelumnya. Mereka percaya apabila ada yang meninggal maka arwahnya akan masuk kedalam salah satu kawah yang ada di gunung ini. Selain itu masing-masing danau ini memiliki tiga warna yang berbeda dan selalu berubah-ubah.



Legenda Lokal

Selain terkenal dengan keindahan alamnya Taman Nasional Gunung Kelimutu juga merupakan salah satu wilayah habitat binatang liar salah satunya monyet ekor panjang. Karena ketika berada di puncak kami menjumpai beberapa monyet ekor panjang yang sedang mencari makanan sisa pengunjung di tempat sampah, mungkin hal inilah yang membuat pihak Taman nasional Gunung Kelimutu membuat feeding ground sebagai tempat untuk memberi makan monyet ekor panjang tersebut.

Menjelang siang, setelah puas potret sana-sini, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan di Desa Moni.

Siang itu juga, kami kembali ke Maumere dengan membungkus satu lagi pengalaman berharga untuk dibawa dengan pengalaman lainnya selama kami di Flores.

Jakarta tunggu aku..!!!














**Sedikit Penampakannya nih
Saya

Tugu Puncak
Salah Satu Danau

Jalur buatan menuju Puncak


Selasa, 15 Februari 2011

Suleng Waseng Ex Solor 1

Solor adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara, yakni di sebelah timur Pulau Flores. Pulau ini dibatasi oleh Selat Lowotobi di barat, Selat Solor di utara, Selat Lamakera di timur, serta serta Laut Sawu di selatan.
Secara administratif, Pulau Solor termasuk wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Pulau ini merupakan satu di antara dua pulau utama selain Pulau Adonara ( Pulau yang akan saya singgahi beberapa hari kemudian) pada kepulauan di wilayah Kabupaten Flores Timur. Tanggung jawab akan kerjaan membuat kami harus bolak-balik menyebrang ke Pulau Solor dari Kota Larantuka. Dengan ongkos naik Kapal Penyebrangan seharga 10rb perorang dan jika membawa motor akan dihitung 1 0rang. Hari itu Rabu, 9 februari 2011 saya menyebrang bersama partner kerja, Imron atau Iim yang sudah saya kenal sebelum sama-sama bekerja di bidang yang sama. Tapi disini saya tidak akan menceritakan tentang apa pekerjaan saya dan apa yang saya lakukan disana. Karena saya hanya mengangkat demografinya saja.

Tak terasa sejam kami menyebrangi Selat Solor dan berlabuh di Desa Pamakayoh. Salah satu dari empat Pelabuhan singgah yang berada di Pulau Solor. Kami pun langsung menuju tempat salah satu tujuan saya, Desa Suleng Waseng. Desa yang berada di wilayah selatan Pulau Solor ini berjarak kira-kira sejam dari Desa Pamakayoh. Dengan bantuan GPS dan Navigasi "Punten" (bertanya ke penduduk). Sepanjang perjalanan Kami disuguhi oleh pemandangan pantai karang dengan sedikit pasir putih serta keramahan tegur-sapa setiap penduduk seperti tidak menunjukan betapa kerasnya kehidupan mereka di pulau yang bercuaca panas serta banyak ditumbuhi batu karang atau kapur serta terbatasnya sumber air bagi mereka.

Dan kami pun sampai di tempat tujuan Desa Suleng Waseng. Sebuah Desa yang hanya punya dua sumber air dan belum mendapat pasokan listrik dari pemerintah ini (kecuali Suleng Waseng semua wilayah di Pulau Solor telah menikmati listrik walaupun hanya 12 jam saja), wilayah yang hanya memiliki sekitar 40-an KK ini mayoritas bekerja sebagai petani, ada juga yang bekerja sebagai nelayan dan mencoba mengadu nasib hingga jauh di sebrang pulau bahkan menjadi TKI ke malaysia.

Best pict, Pelangi dgn latar Gn.Lewotobi
Untuk budaya maupun ada istiadat, Desa Suleng Waseng masih memegang teguh adat istiadat yang telah diwariskan oleh para leluhur mereka. Seperti Upacara menyambut musim panen maupun musim tanam tiba. Selain sistem pemerintahan negara, di Suleng Waseng maupun Pulau Solor pada umumnya juga terdapat sistem pemerintahan berdasarkan suku. Kepala suku memegang peranan dalam hal upacara adat, menjatuhkan sanksi adat, dan hal-hal lain yang lebih bersifat spiritual. Sedangkan para pemegang kekuasaan sistem pemerintahan tetap dipegang kepala dusun, kepala desa, lurah atau camat. Di antara semuanya terjalin hubungan yang baik dan tidak saling melangkahi kewenangan masing-masing.

Sebuah wilayah yang kurang perhatian dari Pemda setempat apalagi Pemerintah Pusat ini. Dan penduduk setempat selalu berharap dan berharap ada perubahan di wilayah mereka.

Hidup Indonesia..!!!











** Sedikit Dokumentasi


Motor diatas Kapal
Pantai yang landai dan bersih
Serasa di Dunia Lain
Duuuuhh,, mau berenang..

Senin, 14 Desember 2009

SAR (Search n Rescue)


SAR merupakan singkatan dari Search And Rescue yang mempunyai arti usaha untuk melakukan percarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap keadaan darurat yang dialami baik manusia maupun harta benda yang berharga lainnya

HAKEKAT SAR
SAR merupakan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan secara suka rela dan tanpa pamrih dan merupakan kewajiban moril bagi setiap individu yang terlatih untuk melakukan pertolongan terhadap korban musibah secara cepat, tepat dan efisien dengan memanfaatkan sumber daya/potensi yang ada, baik sarana dan prasarana maupun manusia yang ada.